Mengenal Tentang Hakikat Ilmu Nahwu dan Shorof
Andreysetiawan.com- Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagai pengetahuan tentang pengertian salah satu ilmu tata bahasa arab yang berguna untuk memahami teks arab, hadist, maupun Al-Quran, yaitu ilmu Nahwu dan Shorof. Bila dianalogikan dalam kehidupan kita, ilmu Nahwu bagaikan bapaknya ilmu sedangkan ilmu Shorof adalah ibunya ilmu.
Hal ini seakan-akan menegasakan kepada kita bahwa untuk memahami ilmu agama. Kita harus menguasai ilmu nahwu sebagai bapaknya ilmu dan ilmu Shorof sebagai ibunya ilmu. Hal ini dikarenakan kehadiran seorang bapak tak akan lengkap tanpa adanya seorang ibu. Demikian juga ilmu gramatika arab lainya, seperti: ilmu Balaghoh, ilmu Arudh, ilmu Mantiq, dan lain-lain, semuanya saling melengkapi satu sama lain untuk membuahkan pemahaman yang sempurna.
Mengenal Tentang Hakikat Ilmu Nahwu dan Shorof
Sebelum mengetahui definisi dari ilmu Nahwu dan Shorof itu sendiri, alangkah baiknya kita mengetahui pencetus pertama ilmu Nahwu dan Shorof beserta hal-hal yang mendasar tentang keduanya.
Pencetus Ilmu Nahwu adalah Abu Aswad Ad-Dualy radhiallahuanhu wafat tahun 69 H, atas perintah Khalifah Syaidina Ali bin Abi Thalib kharamallahuwajha. Dan tujuan mempelajari Ilmu Nahwu menurut kitab Khasfu Al-Ghuyum an Risalati Mabadiil Ulum karangan Syekh Muhammad bin Muhammad bin Umar yang dikenal dengan sebutan Imam Nawawi Al-Jawi adalah menguatkan dan menjaga lisan dari kesalahan dalam pengucapan lafaz bahasa arab. Hal tersebut merupakan kunci untuk memahami Al-Quran dan sunah nabi. Sedangkan hukum mempelajari Ilmu Nahwu adalah fardhu kifayah. Dan dalil tentang Ilmu Nahwu adalah
."رُوِيَ عَنْ عُمَرْ بِن الخَطَاب -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- : "تَعَلَّمُوْا النَحْو وَالفَرَائِض فَإِنَهُ مِنْ دِيْنَكُم"
Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiallahuanhu, beliau berkata: “pelajarilah ilmu nahwu dan farhaid, sesungguhnya ia merupakan sebagian dari agama kalian.”
Imam Syafi’I radhiallahuanhu juga berkata:
."مَنْ تَبَحَرَّ فِي النَحْو اِهْتَدَى إِلَي كُلِّ العُلُوْم"
Artinya:“Siapa yang menguasai Ilmu Nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu.”
Sedangkan untuk pencetus Ilmu Shorof adalah Muadz bin Muslim Al-Hara’ radhiallahuanhu wafat tahun 187 H. Dan tujuan mempelajari Ilmu Shorof ini adalah mengetahui struktur dan asal kata bahasa arab untuk menjaga lisan dari kesalahan dalam pengucapan lafaz bahasa arab dengan mempertimbangkan sistem penulisan. Sedangkan hukum mempelajari Ilmu Shorof adalah fardu khifayah. Dan dalil tentang Ilmu Shorof adalah Allah SWT berfirman:
"إِنَاّ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنَا عَرَبِيّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْن"
Artinya:“Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa arab, agar kamu memehaminya.”
Pengertian Ilmu Nahwu dan Shorof
1. Ilmu Nahwu adalah salah satu cabang ilmu dalam bahasa arab yang mempelajari kedudukan sebuah kata dan mengetahui hukum atau harakat akhirnya. Sehingga Ilmu Nahwu bisa dibilang merupakan kumpulan kaidah atau aturan dalam bahasa arab yang berfungsi untuk mengetahui bentuk kata beserta keadaan-keadaanya. Contohnya:
قَامَ المُدَرِسُ
Seorang guru telah berdiri
Baca juga: Shighat-Shighat dalam Bahasa Arab
رَأَيتُ المُدَرِسَ
Saya telah melihat seorang guru
مَرَرتُ بِالمُدَرِسِ
saya telah bertemu dengan seorang guru
Dari contoh di atas, kita bisa melihat perubahan harakat akhir huruf (س) dimana perubahan ini tergantung dari susunan atau keadaan kata pada kalimat.
2. Ilmu Shorof adalah salah satu cabang ilmu dalam bahasa arab yang mempelajari tentang perubahan bentuk kata dalam bahasa arab. Sedangkan didalam praktiknya perubahan dalam bahasa arab dikenal dengan istilah tashrif.
Baca juga: Istilah-Istilah Penting dalam Ilmu Sharaf
Secara bahasa tashrif berarti pengubahan. Sedangkan menurut istilah adalah pengubahan bentuk asal kata kepada bentuk yang berbeda-beda dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah makna yang dimaksud. Contohnya:
َقَام menjadi يَقُوْمُ kedua lafat tersebut memiliki arti berbeda setelah terjadi perubahan. Contoh penerapan dalam kalimat bahasa arab:
قَامَ المُدَرِّسُ فِي أَمَامَ الفَصْلِ
Seorang guru telah berdiri di depan kelas
يَقُوْمُ المُدَرِّسُ فِي أَمَامَ الفَصْلِ
Seorang guru berdiri atau sedang berdiri di depan kelas
Dari penerapan kedua lafaz tersebut dalam kalimat bahasa arab, kita bisa melihat adanya perubahan dan perbedaan makna diantara lafaz قام dan يقوم , yaitu perubahan lafaz قام yang statusnya menjadi fi’il madhi (masa lalu atau telah terjadi) kepada lafaz يقوم yang statusnya menjadi fi’il mudhori’ (masa sekarang atau masa depan) dan perbedaannya dalam hal waktu kejadian.